Rabu, 14 Desember 2016

Machiavelli dalam Merebut dan Mempertahankan Kekuasaan




Machiavelli


Machiavelli memiliki obsesi terhadap negara kekuasaan (maachtstaat) dimana kedaulatan

tertinggi terletak pada kekuasaan penguasa dan bukan kepada rakyat atau prinsipi-prinsip

hukum. Machiavelli merupakan filsafat yang hidup dan mengalami masa renaisans yaitu tonggak kebangkitan peradaban eropa. Dimana pada masa ini beliau mempunyai pemikiran politik mengenai penguasaan negara atau negara kekuasaan. Beliau menganggap bahwa jika ingin menjadi suatu pemimpin negara maka harus memiliki kekuasaan dan kekayaan. Kekuasaan disini bisa diaplikasikan kedalam hokum yang baik dan tentara yang baik sebagai system politik yang baik. Dengan kekayaan dan kekuasaan ditambah dengan hokum yang baik dan tentara yang baik penguasa harus dapat mengatur rakyatnya melalui paksaan dengan kekuasaannya. Negara bukan lagi menjadi symbol pemerintahan yang untuk kepentingan rakyat melainkan sebagai symbol tertinggi dari suatu kekuasaan politik sehingga sebagai pemimpin negara berhak melakukan supremasi kekuasaan sebagai alat untuk menguasai dan mengatur semuanya secara otoritas. Jadi melalui kekuasaan pemimpin mempunyai otoritas untuk memerintah dengan cara memaksa sekali pun.
Machiavelli mempunyai gagasan politik tentang negara, penguasa, dan kekuasaan. Dimana, penguasa yang baik menurut Machiavelli harus mengejar kekayaan dan kekuasaan, seperti yang dijelaskan diatas sebagi pemimpin mengejar kekayaaan dan kekuasaan merupakan jalan untuk dapat menjalankan otoritasnya dalam memimpin negara dengan cara memaksa sekalipun.Kekuasaan adalah raison d’etre negara, yaitu kekuasaan merupakan implikasi dari negara atau tujuan dari kekuasaan adalah tujuan dari negara.Negara sebagai simbolisasi tertinggi kekuasaan politik, jadi negara sebagai pemerintahan tertinggi bagi pemimpin untuk menguasai kekuasaan politik.
Sebagai pemimpin negara yang bijak seorang pemimpin  atau penguasa harus mengedepankan kekayaan dan kekuasaan serta memiliki kemampuan untuk menjadi baik sekaligus menjadi buruk serta sifat – sifat tegas, kekejaman, kemandirian, disiplin dan control diri dan mampu memperlihatkan repotasi baik seperti murah hati, ketulusan. Jadi pada dasarnya Machiavelli memiliki obsesi terhadap negara kekuasaan (maachstaat). 
Pengusaha membutuhkan kekuasaan untuk dapat menjalankan negara beserta perangkat yang melekat, untuk mendapatkan serta mempertahankan kekuasaan Machiavelli berpendapat hal tersebut dapat ditempuh dengan cara – cara memusnahakan semua lawan politik dan negaranya, dengan cara ini penguasa mempertahankan kekuasaan karena segala sesuatu yang menghalangi jalannya untuk menjadi penguasa disingkirkan atau dimusnahkan sehingga tidak akan ada perlawanan dari musuh politik yang sudah dimusnahkan tersebut dan dalam merebut serta mempertahankan kekuasaan segala cara dihalalkan termasuk politik adu domba atau divide et impera dalam mempertahankan kekuasaannya. 
Selain memusnahkan lawan politik untuk melanggengkan kekuasaan diperlukan Kolonisasi yaitu perluasan wilayah samapi keluar batas negaranya, hal ini dilakukan untuk perluasan daerah kekuasaan dan biasanya hal ini dilakukan untuk mencari sumber daya alam atau sumber tenaga manusia untuk kesejahteraan perekonomian negara pusat. 
Machiavelli mengibaratkan sebagai penguasa harus memiliki dua wajah (manusia dan binatang) atau Chiron disini pengartian dua wajah sebagai manusia sekaligus binatang yaitu mempunyai kehidupan seperti binatang buas dimana yang kuat maka yang menang. Merebut dan mempertahankan kekuasaan dengan cara yang kuat yang menang. 
Seorang penguasa menuju kekuasaan yang kuat dan negara yang kuat harus didukung dengan angkatan perang yang kuat atau the armed prophets, dengan angkatan perang yang kuat serta didukung dengan senjata yang kuat maka negara dapat menjalankan cara kolonisasi terhadap negara lain serta mempertahankannya kekuasaan dengan cara pelatihan militer sehingga tercipta rasa nasionalisme terhadap negara untuk memupuk rasa setia terhadap negara dan melahirkan angkatan perang yang kuat. Seorang penguasa harus mengetahui keadaan negara serta mengerti cara melawan musuh, dengan mengetahui keadaan negara maka pemimpin akan tahu bagaimana cara melawan musuhnya sehingga akan tercipta kekuasaan yang mutlak. 
Negara harus memanfaatkan agama atau Utilitarianisme agama dan politik yaitu memanfaatkan agama untuk kepentingan politik jadi Machiavelli menyarankan kepada penguasa agar tetap mempertahankan dan memelihara ritus keagamaan untuk mencari simpati. 
Negara hanya untuk dikuasai oleh penguasa. Angkatan bersenjata dijadikan pion untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan melalui Kolonisasi, agama dijadikan sebagai alat mendapatkan simpatik untuk memlihara kekuasaan penguasa. Penguasa merupakan negara itu sendiri dengan kata lain penguasa adalah pusat dari segara yang ada di dalam negara. Tidak ada kekuasaan yang lebih absolut dalam negara dari pada penguasa, semua usaha yang dilakukan oleh negara hanya untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan penguasa.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar