![]() |
| Machiavelli |
Machiavelli memiliki obsesi
terhadap negara kekuasaan (maachtstaat) dimana kedaulatan
tertinggi terletak pada
kekuasaan penguasa dan bukan kepada rakyat atau prinsipi-prinsip
hukum. Machiavelli merupakan
filsafat yang hidup dan mengalami masa renaisans yaitu tonggak kebangkitan
peradaban eropa. Dimana pada masa ini beliau mempunyai pemikiran politik
mengenai penguasaan negara atau negara kekuasaan. Beliau menganggap bahwa jika
ingin menjadi suatu pemimpin negara maka harus memiliki kekuasaan dan kekayaan.
Kekuasaan disini bisa diaplikasikan kedalam hokum yang baik dan tentara yang
baik sebagai system politik yang baik. Dengan kekayaan dan kekuasaan ditambah
dengan hokum yang baik dan tentara yang baik penguasa harus dapat mengatur
rakyatnya melalui paksaan dengan kekuasaannya. Negara bukan lagi menjadi symbol
pemerintahan yang untuk kepentingan rakyat melainkan sebagai symbol tertinggi
dari suatu kekuasaan politik sehingga sebagai pemimpin negara berhak melakukan
supremasi kekuasaan sebagai alat untuk menguasai dan mengatur semuanya secara
otoritas. Jadi melalui kekuasaan pemimpin mempunyai otoritas untuk memerintah
dengan cara memaksa sekali pun.
Machiavelli
mempunyai gagasan politik tentang negara, penguasa, dan kekuasaan. Dimana, penguasa yang
baik menurut
Machiavelli harus mengejar kekayaan dan kekuasaan, seperti yang dijelaskan diatas
sebagi pemimpin mengejar kekayaaan dan kekuasaan merupakan jalan untuk dapat
menjalankan otoritasnya dalam memimpin negara dengan cara memaksa sekalipun.Kekuasaan
adalah raison d’etre negara, yaitu kekuasaan merupakan implikasi dari negara
atau tujuan dari kekuasaan adalah tujuan dari negara.Negara sebagai simbolisasi
tertinggi kekuasaan politik, jadi negara sebagai pemerintahan tertinggi bagi
pemimpin untuk menguasai kekuasaan politik.
Sebagai pemimpin negara yang
bijak seorang pemimpin atau penguasa
harus mengedepankan kekayaan dan kekuasaan serta memiliki kemampuan untuk
menjadi baik sekaligus menjadi buruk serta sifat – sifat tegas, kekejaman,
kemandirian, disiplin dan control diri dan mampu memperlihatkan repotasi baik
seperti murah hati, ketulusan. Jadi pada dasarnya Machiavelli memiliki obsesi
terhadap negara kekuasaan (maachstaat).
Pengusaha membutuhkan kekuasaan untuk dapat
menjalankan negara beserta perangkat yang melekat, untuk mendapatkan serta mempertahankan kekuasaan Machiavelli berpendapat hal
tersebut dapat ditempuh dengan cara – cara memusnahakan semua lawan politik dan negaranya, dengan cara ini penguasa
mempertahankan kekuasaan karena segala sesuatu yang menghalangi jalannya untuk
menjadi penguasa disingkirkan atau dimusnahkan sehingga tidak akan ada
perlawanan dari musuh politik yang sudah dimusnahkan tersebut dan dalam merebut
serta mempertahankan kekuasaan segala cara dihalalkan termasuk politik adu
domba atau divide et impera dalam mempertahankan kekuasaannya.
Selain memusnahkan lawan politik untuk melanggengkan
kekuasaan diperlukan Kolonisasi
yaitu perluasan wilayah samapi keluar batas negaranya, hal ini dilakukan untuk
perluasan daerah kekuasaan dan biasanya hal ini dilakukan untuk mencari sumber
daya alam atau sumber tenaga manusia untuk kesejahteraan perekonomian negara
pusat.
Machiavelli mengibaratkan sebagai penguasa harus memiliki dua wajah (manusia dan binatang) atau Chiron disini
pengartian dua wajah sebagai manusia sekaligus binatang yaitu mempunyai
kehidupan seperti binatang buas dimana yang kuat maka yang menang. Merebut dan
mempertahankan kekuasaan dengan cara yang kuat yang menang.
Seorang penguasa menuju kekuasaan yang kuat dan negara
yang kuat harus didukung dengan angkatan perang
yang kuat atau the armed prophets, dengan angkatan perang yang kuat serta
didukung dengan senjata yang kuat maka negara dapat menjalankan cara kolonisasi
terhadap negara lain serta mempertahankannya kekuasaan dengan cara pelatihan
militer sehingga tercipta rasa nasionalisme terhadap negara untuk memupuk rasa
setia terhadap negara dan melahirkan angkatan perang yang kuat. Seorang
penguasa harus mengetahui keadaan negara serta mengerti cara melawan musuh, dengan mengetahui keadaan negara maka
pemimpin akan tahu bagaimana
cara melawan musuhnya sehingga akan tercipta kekuasaan yang mutlak.
Negara harus memanfaatkan agama atau Utilitarianisme agama dan politik yaitu memanfaatkan agama untuk
kepentingan politik jadi Machiavelli menyarankan kepada penguasa agar tetap
mempertahankan dan memelihara ritus keagamaan untuk mencari simpati.
Negara hanya untuk dikuasai oleh penguasa. Angkatan
bersenjata dijadikan pion untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan melalui
Kolonisasi, agama dijadikan sebagai alat mendapatkan simpatik untuk memlihara
kekuasaan penguasa. Penguasa merupakan negara itu sendiri dengan kata lain
penguasa adalah pusat dari segara yang ada di dalam negara. Tidak ada kekuasaan
yang lebih absolut dalam negara dari pada penguasa, semua usaha yang dilakukan
oleh negara hanya untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan penguasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar